Thursday, December 24, 2009

Heal your emotional pain, broken heart and free yourself from sadness

Menurut teman saya, sebut saja namanya Randu, banyak orang yang senang berada dalam kesedihan. Termasuk saya, katanya.
elo itu udah bodoh, tapi senang dengan kebodohan lo dan berharap orang-orang memberikan piala atas kebodohan lo”.
What the heck??!
Buat saya yang waktu itu dalam keadaan super drop, seperti didorong jatuh ke tempat yang sangat gelap and I felt a wave of nausea all of sudden.
Dan dengan bahagianya dia malah menarikan “victory dance” atas perempuan-perempuan (saya dan teman saya satu lagi yang waktu itu juga sedang patah hati, sebut saja namanya kiki) yang sedih karena kisah cintanya, yang sayangnya banyak disebabkan oleh sedikitnya logika kami yang bekerja. Ahaha.
Sedikit tambahan, Randu adalah seorang laki-laki yang terperangkap dalam tubuh perempuan. Hell yes! you would know everything behind a man through her. Hanya kepada orang-orang tertentu yang dia pilih, dia mau menampilkan “wujud” aslinya.

Lalu, saya mulai mengingat semua kata-kata dia, yang menyimpulkan bahwa saya senang berada dalam kesedihan, bahwa saya harus memutuskan rantai kesedihan atau hidup saya harus berakhir dengan mengulang kesedihan itu terus menerus sampai akhir hayat (hehe berlebihan).

But then I realized that was true!
Bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin?
Padahal, bukannya setiap orang mau bahagia dan nggak suka kesedihan?
Saya tidak tahu persis kenapa begitu..

Yang saya tahu, saya harus belajar, sembuh dan bangun. Saya mau bahagia.
Saya sudah puas bersedih, dari mulai nangis kecil, nangis guling-gulingan, bangun tidur nangis (sumpah, ini paling nggak enak), mau tidur nangis,  muntah, menyiksa diri dengan lagu-lagu dan liriknya yang sedih, bengong, ngomong sendiri, ngomong dengan bayangan, menyusuri jalan yang biasa dia lewati, sampai googling yang berbuntut membuat saya merasa semakin nggak ada artinya.

Saya bisa bahagia dan memilih bahagia melalui pelajaran dan terapi untuk “kesembuhan” yang saya simpulkan dari perjalanan-perjalanan berbagi cerita dengan para sahabat, buku, film, lagu dan atau apapun yang saya temui.


 1. Berhenti bersedih
Stop mendengarkan lagu-lagu sedih! Kalo kata Samuel, dengerin lagu-lagu mellow ketika sedih sama dengan menjorokkan diri kita semakin dalam ke lubang kesedihan. Saya (pada akhirnya) setuju, karena ternyata yang saya butuhkan adalah “alat bantu” untuk keluar dari lubang ini, bukan “alat bantu” yang menemani kesedihan dan akhirnya semakin menjorokkan saya lebih dalam lagi. Kemudian saya memilih dua lagu sebagai teman, yang satu lagu “ke-Tuhanan”, dan yang satunya lagi, lagu dengan irama riang tapi menenangkan dan menyemangati. Lagu yang saya pilih, telah melewati tiga seleksi; seleksi pertama, mendengarkan ketika sadar, seleksi kedua, mendengarkan ketika sedih atau ingat dia dan seleksi ketiga, mendengarkan ketika mau tidur. Kalau lagu tersebut bisa mengalihkan saya dari rasa sedih, bisa membuat saya bangun pagi tidak dengan air mata maka itu adalah lagu yang tepat, yang pada akhirnya saya putar berulang-ulang setiap saya berbaring mau tidur atau ketika merasa down. Untuk lagu rohani saya ngga menseleksinya, lagu itu saya dapat secara tidak sengaja.
Stop membaca – baca ulang atau melihat – lihat barang pemberiannya. Kita butuh melupakan, bukan mengingat. Jangan memanjakan kesedihan dengan melihat – lihat itu semua kembali. Kalau perlu, masukin ke box, gembok dan buang kuncinya ke kali. Atau buang sekalian box-nya.
Stop menyusuri jalan – jalan yang pernah dilalui bersama (kecuali terpaksa). Lagi, kita butuh melupakan bukan mengingat. Nggak ada gunanya dengan sengaja menyisiri jalanan yang pernah kalian lalui bersama. Di samping itu, lewat jalan baru akan menambah perbendaharaan peta.
Percaya dan yakini bahwa apapun yang terjadi adalah tepat pada waktunya.
Be positive and always remember that everything is nothing. You didn’t bring sadness into your grave.

2. Kembalikan semangat
In my ‘sotoy’ opinion, before you can get the new spirit you have to release the old cranky spirit first. Unleash that. You can scream, write or in my case I draw. Those activities help you to release your sadness and distract you from sad memories. I can put full of my thoughts to drawing instead of him, even though I still think of him whenever I stop draw, but at least I have a time when my mind free from him and the sadness and I gradually released those.
Keep occupying your mind. That’s easier when you have a permanent job. But if you don’t, you can read books, watch movies, googling (you never now where google can take you by a single word), baking, cooking, gardening or playing as much as you can with your pet. It’ll help you to deal with the free time when you’re not doing releasing activities above.
See new things, new environments or new people. I’m sure you’ll realize how big this world is and how small your sadness is. If you’re not being able to see something new, then try to change your view. I mean, you can see something that you usually see with a new point of view.
Try something new. You can start it with small things that you do everyday. Use your left hand when writing, use different glass, re-d├ęcor your room and many other things.
Watch horror movie and sitcoms (any comedy will do).
Pray. Bring yourself closer to God. Only He who put you in this mess can bring you out from it. And only He who always stay and loves you forever. Ask Him for strength, and the ability to born new.

3. Maintain the good shape of your soul and your relationship with God. Learn your mistakes and don’t do it again. And remember, nothing really matters in this world. We’re just passengers.

Good luck.










Wednesday, December 2, 2009